Mentan RI: Penurunan Kinerja Sektor Pertanian Bukan Karena Hasil Produksi Tak Akurat

Home / Ekonomi / Mentan RI: Penurunan Kinerja Sektor Pertanian Bukan Karena Hasil Produksi Tak Akurat
Mentan RI:  Penurunan Kinerja Sektor Pertanian Bukan Karena Hasil Produksi Tak Akurat Menteri Pertanian (Mentan RI) Syahrul Yasin Limpo. (FOTO: Kompas)
Fokus Berita

TIMESTRENGGALEK, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan RI) Syahrul Yasin Limpo menegaskan, penurunan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan  bukan disebabkan oleh hasil produksi petani tidak akurat, namun karena dampak Covid-19 yang menyebabkan  pelambatan transportasi, distribusi, dan pembatasan berbagai akselerasi kemasyarakatan.

"Karena adanya berbagai pembatasan dalam menghadapi Covid-19 menyebabkan nilai tukar petani (NTP) mengalami penurunan, di sini harus ada solusi penyikapan yaitu membangun stok penyangga atau buffer stock untuk 11 komoditas pangan, lalu pengembangan pasar dan toko tani, jaring pengaman sosial bagi petani, menjaga stabilitas harga," ujar Mentan, Jumat (5/6/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat, kinerja sektor pertanian di tengah pandemi Covid-19 ini mengalami penurunan kinerja yang cukup signifikan. Menurut Kepala BPS Suhariyanto sebagaimana dikutip dari laman resmi, Jumat, 5 Juni 2020, Sub sektor pertanian yang cukup mengalami penurunan signifikan, adalah sub sektor tanaman pangan sebesar 0,54 persen dan sub sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,30 persen. Penurunan nilai tukar petani (NTP) ini dikarenakan adanya penurunan harga di beberapa komoditas.

Kementan RI diakui dia terus berupaya dan menyiapkan sejumlah strategi khusus masalah pangan ini. Misalnya, pertama dengan agenda SOS, atau emergency yang ditemukan ketika harga ayam sempat jatuh beberapa waktu lalu. "Bagi peternak, ayamnya akan dibeli oleh mitra dan difasilitasi penyimpanan berpendingin oleh pemerintah. Disini, kami telah berkoordinasi dengan mitra," ucapnya.

Strategi berikutnya, agenda jangka menengah yaitu memaksimalkan ekspor dengan mengintervensi industri agriculture agar tidak memecat karyawannya. Juga relaksasi terhadap padat karya melalui pemberian bibit atau benih sehingga produksi komoditi tetap berjalan.

"Wilayah yang mengalami kekeringan dan minus kami support lewat bantuan sarana produksi, secara medical solution masalah Covid dapat diselesaikan dengan cepat namun untuk food security membutuhkan antisipasi paling cepat 2 tahun. Pertanian adalah solusi," tegas Mentan.

Kemudian agenda jangka panjang yaitu meningkatkan produksi pertanian, ekspor tiga kali lipat, penurunan gagal panen sebesar lima persen, mendorong pertumbuhan petani milenial 2,5 Juta orang.

Mentan Syahrul menerangkan, ekstensifikasi pangan di lahan rawa  juga terus dikebut sambil mengoptimalkan lahan yang sudah ada atau sekitar 600 ribu hektare untuk 1,5 juta ton beras. "Infrastruktur juga telah disiapkan guna mendukung strategi tersebut," paparnya.

Jika kedepannya masih ada kendala, Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan cara bertindak (CB) diantaranya mengidentifikasi kembali lahan rawa. "Kita masuk ke Kalteng ada 160 ribu  hektare lahan masih terbuka ini menjadi tantangan dan butuh intervensi, oleh sebab itu diperlukan transmigran  petani yang siap bertani dalam berbagai kondisi," ungkap dia.

Selanjutnya intervensi bahan pangan lokal yaitu satu provinsi, satu panganan seperti sorgum, jagung, ubi kayu. Untuk itu, Kementan tengah menggelorakan program pekarangan pangan lestari. "Sekarang sudah ada 3.836 kelompok ini yang sedang kita konsentrasikan, saya sedang mencari penambahan keuangan dengan berkoordinasi bersama Menkeu dan mitra lainnya," paparnya.

"Lalu cadangan beras dengan lumbung pangan masyarakat (LPM), kita berharap Provinsi, Kabupaten, Kota, Kecamatan memiliki LPM. Sampai sekarang ada 320 LPM yang siap menjadi sandaran saat kekeringan," demikian tandas Mentan RI Syahrul Yasin Limpo menegaskan, penurunan sub sektor tanaman pangan dan perkebunan  bukan disebabkan oleh hasil produksi petani tidak akurat, namun karena dampak Covid-19. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com