Ilusi Harapan Sosial

Home / Kopi TIMES / Ilusi Harapan Sosial
Ilusi Harapan Sosial Lilik Agus Purwanto, Intelektual muda NU

TIMESTRENGGALEK, PALEMBANGPERJALANAN ke Surabaya beberapa bulan yang lalu menyisakan cerita, tepatnya tiga bulan jelang Pilpres kala itu. Kebetulan duduk bersebelahan dengan seorang bapak paruh baya yang masih energik dan bersemangat dalam bertutur perihal apa saja mengenai dirinya.

Perjalanan yang singkat kurang lebih satu jam, kami ngobrol tentang banyak hal. Terkait urusan perjalanan hingga situasi politik kekinian (jelang Pilpres). Satu hal yang membuat saya mengernyitkan dahi, beliau mengaku sebagai orang dekat (teman kecil) salah satu Paslon.

Satu hal yang mengelitik rasa keingin tahuan saat itu adalah dari sekian informasi adalah cerita beliau tentang keberadaan “harta karun” yang tersimpan di suatu daerah di Jawa Timur, dan tentu saja salah satu misi dalam perjalanan itu adalah untuk menemui seorang kolega yang rencananya bersama-sama akan mengambil “harta karun” yang tersimpan dalam tanah tersebut untuk yang nantinya diperuntukkan mendanai kepentingan Pilpres dan untuk kegiatan sosial lainnya.

Kala itu selintas ingatan saya melayang pada fenomena “Kanjeng Dimas” tempo lalu, dimana tidak hanya masyarakat biasa yang terperdaya oleh tipu muslihatnya, bahkan sampai seorang tokoh dan intelektual kaliber doctor pun mempercayai hal itu, meskipun pada akhirnya figur sentral itu telah diganjar hukuman atas pidana tindak penipuan massal yang ia lakukan.

Kini berita dan media sosial digemparkan dengan kemunculan fenomena baru “Kerajaan Agung Sejagat (KAS)” yang berada di Purworejo, Jawa Tengah. Dalam sebuah keterangan pers yang ia gelar pada Minggu (12/1/2020). Totok Santoso Hadiningrat selain mengklaim dirinya sebagai penerus kerajaan Majapahit, juga mengklaim telah memiliki pengikut sebanyak 426 orang.

Perilaku Totok, yang mengklaim dirinya sebagai Sinuhun/Raja KAS, ternyata pernah menghebohkan Jogjakarta, dengan lembaga Jogjakarta Development Comitte (Jogja-Dec) yang ia inisiasi, bersangkutan menjanjikan uang ratusan Dollar, kepada orang-orang yang bersedia mendaftarkan dirinya menjadi member Jogja-Dec. Konon katanya uang itu diperoleh dari dana milik bangsa Indonesia yang tersimpan di Bank Swiss.

Fenomena serupa kerap bermunculan di tengah-tengah masyarakat. Dari mulai klaim bisa mengandakan uang seperti Kanjeng Dimas, mengklaim diri sebagai nabi, seperti Ahmad Musadek, bahkan telah lama menjamur berbagai aliran-aliran kepercayaan baru, yang kesemuannya menawarkan sebuah perubahan status sosial, ekonomi, bahkan juga politik, saya menyebutnya sebagai ilusi harapan sosial.

Boleh saja hal ini kita anggap sebagai kelucuan bahkan guyonan, dan memang bagi orang yang berpikir secara logis hal ini memang kelucuan ditengah kehidupan modern saat ini.

Namun bagaimana dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang sedang dirundung persoalan status sosial dan ekonomi? Bisa saja hal ini dianggap sebagai solusi di tengah sulitnya beban kehidupan.

Himpitan persoalan ekonomi, dan ketamakan yang menjangkiti masyarakat mapan menjadi penyebab. Rentetan berbagai persoalan membuat nalar berfikir menjadi tidak logis, maka jalur instan kerap ditempuh untuk memecahkan berbagai problem sosial. Bukan persoalan kapasitas intelektual, karena nyatanya pengikut sekaligus pengagum setia Kanjeng Dimas ternyata ada juga yang bergelar Doktor.

Bahkan menarik, dalam sebuah jurnal riset yang dilakukan oleh Nurul Rodiyah dan rekan dari Prodi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (2017) yang secara khusus meneliti fenomena peran Kanjeng Dimas dari sudut pandang ilmu antropologi, penelitian tersebut mendeskripsikan hubungan antara tingkat kesetiaan pengikut Kanjeng Dimas terhadap kemampuan berpikir kritis dan logis.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tingkat kesetiaan para pengikut Kanjeng Dimas dipengaruhi oleh sosok figur sentral tersebut yang mampu menghadirkan rasa nyaman. Dalam kondisi kenyamanan itulah audiens menjadi mudah dikondisikan, ketika berhadapan dengan figur sentral tersebut ada peluang si pelaku mengiring pengikutnya untuk mengesampingkan logika, karena mereka menganggap bahwa ada ruang akal yang tidak mampu menjangkau hal-hal mistis (diluar nalar) yang dihadirkan ketika berhadapan dengan kanjeng Dimas.

Modus-modus yang dimainkan oleh “aktor-aktor” hampir sama, terdapat unsur doktrin, pengesampingan akal sehat, dan kemudian mengarah pada tingkat loyalitas. Jika sudah terjadi demikian, maka apapun akan dikorbankan, bahkan latar belakang intelektual yang dianggap mampu menalar setiap persoalan menjadi blank, dan beruba menjadi loyalitas buta.

Pekerjaan rumah kita saat ini masih berjubel untuk satu persatu dicarikan jalan penyelesaiannya. Sebagaimana fenomena diataspun butuh perhatian yang serius. Tantangan menghadapi pesatnya perkembangan dunia yang sering kita sebut Industri 4.0, berikut persiapan menghadapi bonus demografi yang kemungkinan akan kita alami pada kurun waktu 2025 – 2030, tentu akan tidak berarti apa-apa jika kultur sosial masyarakat kita masih demikian. Kultur yang dimaksud adalah latar belakang yang mendasari pola pikir masyarakat kita yang masih mengedepankan hal-hal diluar nalar untuk memperoleh kenyamanan.

Namun demikian, berbagai fenomena yang bermunculan belakangan ini harus ditinjau dari berbagai aspek baik itu sosial, ekonomi, budaya, bahkan ditinjau dari perspektif peranan agama. Pola pembangunan kultur dan kebudayaan sekaligus menanaman nilai-nilai keagamaan dalam keseharian masyarakat penting diterapkan.

Konsep revolusi mental yang diunggul-unggulkan pemerintah, semestinya mampu menjawab persoalan ini. Konsep revolusi mental dan mendorong manusia unggul tidak hanya berkutat pada peningkatan kemampuan nalar dan skill semata, namun yang lebih mendasar adalah pembangunan karakter kepribadian yang mampu membangun fondasi kecerdasar emosional dan spiritual, bukan hanya intelektual semata. Pemangku kepentingan meski bisa melibatkan berbagai unsur masyarakat untuk mengawal proses ini, tidak terkecuali para intelektual di bidang pendidikan formal, keagamaan, bahkan para praktisi yang terjun di masyarakat. Tapi itu kapan?.(*)

* Penulis: Lilik Agus Purwanto, Intelektual Muda NU

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com