Soal Divestasi dan Nasionalisasi, Wapres: Jangan Seperti Venezuela

Home / Berita / Soal Divestasi dan Nasionalisasi, Wapres: Jangan Seperti Venezuela
Soal Divestasi dan Nasionalisasi, Wapres: Jangan Seperti Venezuela Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESTRENGGALEK, JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan semua pihak untuk belajar dari pengalaman ekonomi Venezuela. Sebuah negara kaya minyak yang kini mengalami kebangkrutan ekonomi akibat kebijakan divestasi atau nasionalisasi yang terburu-buru.

"Karena itu tolong media juga turut jangan membawa negeri ini seperti Venezuela. Venezuela semuanya ingin dinasionalisasi, semua ingin didivestasi," kata Wakil Presiden saat memberikan pidato kunci Prospek Ekonomi Indonesia 2018 dalam makan pagi bersama pengurus Persatuan Wartawan Indonesia di Jakarta, Kamis (2/11).

Menurut Wakil Presiden, akibat keinginan untuk menasionalisasi, maka banyak investor yang akhirnya memilih pergi dari Venezuela. Venezuela kehilangan kepercayaan dari para investor asing. Padahal, menurut dia, masih dibutuhkan invetasi asing untuk memenuhi kebutuhan. "Indonesia ini agak sedikit, kadang-kadang, tidak konsisten. Kita undang investor asing, begitu dia untung, kelihatan keuntungannya, kita mau suruh pulang dia, padahal kita butuh investasi," katanya.

Oleh karena itu, Wapres mengharapkan agar kebijakan divestasi di Indonesia tidak terburu-buru yang pada akhirnya justru merugikan perekonomian nasional. "Tak usah dulu terlalu cepat mengambil yang ada, itu masalah di Venezuela akhirnya dia bangkrut luar biasa, karena semuanya ingin dinasionalisasikan, akibatnya terjadi seperti itu," katanya.

Wapres dalam kesempatan tersebut juga meminta kepada Media untuk memberikan pesan yang dipahami kepada masyarakat sehingga tidak salah kaprah terkait investasi asing.

"Ini tentu bagi saya kritikan kepada saya juga, karena saya bagian dari pemerintahan, tapi kepada teman-teman media untuk memberikan suatu gambaran bahwa banyak pengalaman-pengalaman negara-negara lain yang menyebabkan masalah itu mudah terjadi di negeri itu karena terburu-buru mengambil kebijakan yang menyebabkan orang lain tidak percaya negeri ini. Kalau kita kehilangan 'trust' maka sulit sekali menarik investasi, padahal banyak kesempatan," kata Wapres. (*)

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com